Boeing dan Airbus Cetak Pesanan Rp 1600 Triliun

Boeing dan Airbus saling berlomba dalam hal membukukan pemesanan pesawat untuk event pameran dirgantara Farnborough Airshow 2018 yang akan diadakan di London, Inggris.

Dalam pameran yang berlangsung pada 16-22 Juli ini, kedua produsen pesawat itu mencetak order senilai lebih dari US$ 110 miliar (sekitar Rp 1.600 triliun. Kabar yang dilansir CNBC menyebutkan Boeing lebih unggul ketimbang Airbus dalam tiga hari pertama pameran setelah mencetak pemesanan US$ 60 miliar.

Salah satu transaksi yang cukup besar adalah pembelian 100 unit Boeing 737 MAX oleh maskapai asal Vietnam, Vietjet Air, dengan perkiraan nilai US$ 12 miliar. Untuk pesawat non-penumpang, Boeing mendapatkan pemesanan pesawat kargo sebanyak 34 unit dari Volga DPNER dan 11 unit dari DHL.

Di luar maskapai penerbangan, Boeing juga mendapatkan kontrak pembuatan 78 unit pesawat baru dari perusahaan penyewaan pesawat (leasing) Air Lease Corp senilai US$ 10 miliar. Pencapaian ini membantu Boeing merealisasi target pemesanan dan pengantaran pesawat dalam 20 tahun ke depan, yang mencapai 42.730 unit.

Angka ini lebih besar ketimbang target Airbus, yang sebanyak 37.390 unit. Dalam pameran Farnborough, Airbus dikabarkan sudah mendapatkan order senilai US$ 52 miliar. Perusahaan yang bermarkas di Toulouse, Prancis, ini meneken kontrak pembuatan 80 unit jet A320neo senilai US$ 8,8 miliar.

Namun manajemen Airbus menutup rapatrapat identitas perusahaan leasing yang memesan pesawat tersebut. Order yang diumumkan secara terbuka datang dari maskapai baru di Amerika Serikat yang didirikan pemilik Jet Blue, David Neeleman. Untuk pemesanan 60 unit Airbus A220-300, nilainya mencapai US$ 5,5 miliar.

Namun analis Seeking Alpha, Dhierin Bechai, menyatakan nilai pemesanan yang dicetak Boeing ataupun Airbus belum tentu terwujud dalam bentuk pendapatan bagi kedua perusahaan.

Sebab, menurut dia, banderol dan nilai kontrak yang terealisasi bisa saja lebih rendah lantaran pemesan dan produsen masih dalam posisi tawar-menawar. Tak tertutup kemungkinan ada diskon besar dalam negosiasi tersebut.

Selain itu, pemesan bisa mengkonversi order lama ke pemesanan baru sehingga pendapatan produsen tak naik signifikan. Business Insidermencatat beberapa maskapai penerbangan Asia menjadi konsumen besar di pameran Farnborough Airshow 2018.

Maskapai asal India, Jet Airways, memesan 75 unit Boeing 737MAX senilai US$ 8,8 miliar. Vistara, juga maskapai dari India, memesan enam unit Boeing 787-9 Dreamliner dengan opsi tambahan empat unit.

Ada juga StarLux Airlines dari Taiwan yang memesan lima unit Airbus A350-900 dan 12 unit Airbus A350- 1000 senilai US$ 6 miliar. Adapun Sichuan Airlines dari Cina memesan 10 unit Airbus A350-900s senilai US$ 3,2 miliar. Tingginya pemesanan pesawat oleh maskapai Asia sejalan dengan proyeksi Airbus pada Februari lalu.

Saat itu, Vice President Airbus, Eric Schulz, mengatakan industri penerbangan di Asia-Pasifik membutuhkan 14.450 unit pesawat baru dengan belanja senilai US$ 2,3 triliun dalam dua dekade ke depan.

Menurut dia, lalu lintas penumpang pesawat di Asia-Pasifik meningkat 5,6 persen per tahun, melampaui ratarata global, yang mencapai 4,4 persen. Jumlah pesawat di kawasan ini pun akan berkembang dari 6.100 unit menjadi 17 ribu dalam 20 tahun. Schulz juga memperkirakan pesanan pesawat dari Asia-Pasifik akan mengambil porsi 40 persen dari total permintaan secara global.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *