Ethiopia dan Eritrea melakukan rekonsiliasi setelah 20 tahun konflik mematikan

Para penumpang mengencangkan sabuk pengaman mereka setelah lelah bernyanyi dan menari di dalam pesawat yang membuat kewalahan awak kabin. Penerbangan kali ini memang luar biasa bagi maskapai Ethiopian Airlines dengan nomor ET0312. Untuk pertama kali dalam 20 tahun, maskapai itu kembali menerbangkan rute 90 menit antara ibu kota Addis Ababa dan ibu kota negara tetangga Eritrea, Asmara, pada Rabu lalu.

Jurnalis kantor berita Prancis, AFP, yang turut dalam penerbangan tersebut, seperti dikutip The New York Times, mengatakan aroma perayaan sangat terasa di dalam pesawat. “Bunga mawar dan sampanye gratis dibagikan pada hari pertama rute Ethiopian Airlines yang dimulai kembali dari Addis Ababa, #Ethiopia to Asmara, #Eritrea.

Hari pertama penerbangan dalam 20 tahun,” demikian kicauan reporter Chris Stein melalui akun Twitternya. Melalui akun Twitter mereka, maskapai ini menulis tak lama setelah pesawat lepas landas bahwa “burung perdamaian baru saja terbang ke Asmara”.

Kebahagiaan sangat dirasakan para penumpang. “Saya sangat gembira, Anda tidak tahu rasanya,” kata Izana Abraham, seorang warga Eritrea yang lahir di Addis Ababa. Ia dideportasi dari negara asalnya selama perang berdarah antara 1998 dan 2000. “Sejarah ditulis kembali.” Izana, 33 tahun, hendak mengunjungi ayahnya.

Keduanya terpisah sejak deportasinya hingga akhirnya bertemu di Dubai pada tahun lalu. Kedua negara bertetangga itu terlibat perseteruan sejak perang perbatasan yang dimulai pada 1998 dan menyebabkan kematian sekitar 80 ribu orang, sebagian besar akibat senapan serbu dalam perang parit ala Perang Dunia I.

Pergantian kepemimpinan di Ethiopia telah menghasilkan rekonsiliasi dalam hubungan kedua negara. Sejak mengambil alih kekuasaan pada April lalu, perdana menteri Ethiopia Abiy Ahmed mantan perwira intelijen berusia 41 tahun melakukan sejumlah reformasi penting, seperti membebaskan para pembangkang dari penjara dan liberalisasi sejumlah lembaga pelat merah.

Sadar bahwa konflik itu menempatkan beban ekonomi berkelanjutan di kedua pihak, Abiy terbang ke Asmara 10 hari yang lalu dan bertemu dengan mitranya dari Eritrea, Presiden Isaias Afwerki, dengan pelukan hangat dan tawa. Mereka setuju untuk menerapkan perjanjian damai yang ditandatangani di Aljazair pada 2000.

Seminggu kemudian, Afwerki menghabiskan tiga hari di Addis Ababa. Pertempuran berakhir pada 2000, tapi ketegangan tetap membayangi kedua negara. Akses Ethiopia ke pelabuhan Laut Merah terampas dan memaksa warga Eritrea bergantung pada wajib militer.

Kewajiban militer menjadi alasan utama ribuan pemuda Eritrea melarikan diri setiap bulan banyak yang melakukan perjalanan berbahaya melintasi Mediterania untuk mencari kehidupan yang lebih baik di Eropa.

Dimulainya kembali penerbangan reguler adalah simbol lain rekonsiliasi kedua negara. Maskapai Ethiopia Airlines akan terbang ke Asmara setiap hari. Direktur maskapai, Tewolde GebreMariam, bahkan mengatakan, karena begitu banyak orang yang ingin pergi, mereka mungkin harus menggunakan pesawat ekstra.

“Dengan permintaan yang kami saksikan, saya pikir kami akan meningkatkan frekuensi menjadi dua kali sehari, tiga kali sehari, dan bahkan lebih,” ujarnya dalam sebuah upacara menjelang penerbangan perdana.

Ethiopian Airlines mengatakan tiket untuk penerbangan terjual habis dalam waktu kurang dari satu jam, begitu cepat sehingga pesawat lain diatur untuk terbang 15 menit setelah pesawat pertama.

Ada 300 kursi di pesawat, dan banyak penumpang adalah mereka yang terpisah dari keluarga akibat konflik. Menghirup kopi sambil menunggu penerbangan ke Asmara dilakukan mantan perdana menteri Ethiopia, Hailemariam Desalegn, dan mantan ibu negara Romawi, Tesfaye.

Desalegn mengatakan kepada Reuters, “Saya merasakan sukacita sepenuh hati. Telah ada kebencian di antara kami selama 20 tahun terakhir. Tapi sekarang sudah berakhir.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *