Semangat Wirausaha Dari Jiwa Ayu Gani

Bisnis & modeling
Menyandang gelar sebagai alumni Wajah Femina (WF) melejitkan karier modeling wanita bernama lengkap Ayu Lestari Putri Gani. Memutuskan untuk terjun total, Januari 2013 ia hijrah dari kota asalnya, Solo, ke Jakarta. Begitupun untuk urusan studi, ia banting stir dari jurusan Sastra Inggris, universitas Sanata Dharma, yogyakarta, untuk mengambil Fashion Business di La Salle.

Semangat Wirausaha Dari Jiwa Ayu Gani

“Saya sudah lama ingin belajar fashion di Jakarta. Memang harus mulai dari awal lagi, tapi lebih menyenangkan karena saya menyukainya,” katanya, serius. Di tengah kesibukannya bekerja sebagai model dan mahasiswi di La Salle, ia mencoba merintis bisnis overnight oats dengan brand Dietory pada tahun 2014.

untuk memasarkan produknya itu, Gani menggunakan Instagram. Namun, bisnis ini hanya bertahan 3 bulan, karena kesibukan syuting AsNTM di Singapura. Disusul dengan menjalani kontrak dengan Storm Model Management yang mengharuskannya untuk tinggal di London, Inggris, selama beberapa bulan. Ambisi Gani untuk berwirausaha begitu besar. Sembari menjalani kontrak dengan Storm Model Management, pada tahun 2016 ia kembali mencoba berbisnis yang dekat dengan dunia modeling dan fashion, yaitu produk kacamata dengan label Gaze Eyewear.

Gani menggarap bisnis ini bersama dua rekannya. Ia memfokuskan diri pada konsep desain yang simpel tapi edgy, sementara kedua temannya mengurusi sisi manajemen bisnis dan produksi dari kacamata yang ditujukan untuk wanita yang menarget pasar wanita aktif berjiwa muda. “Kami memilih bisnis kacamata karena memang ketika itu tidak pernah melihat produk kacamata khusus sunglasses merek dalam negeri. Produk itu kami jual dengan harga maksimal Rp325.000,” tuturnya. Bisnis ini cukup menjanjikan, bahkan menembus pasar Asia, seperti Kuala Lumpur, Singapura, dan Beijing.

Sampaisampai, sebuah perusahaan asal Malaysia tertarik membeli label GAZE. Merasa lebih menguntungkan, pada 2017 GAZE pun dijual. “Ini hal biasa di bisnis, saya dan mungkin juga pebisnis lain yang merupakan creator tentu akan memilih model bisnis yang lebih menguntungkan,” katanya. Sesuai kesepatan, Gani tetap menerima royalti dari penjualan. Gani tak berhenti berbisnis. Bersama temannya ia kembali melakukan inovasi bisnis dengan mendirikan bisnis fashion GANEGANI & CO. GANEGANI & CO merupakan marketplace yang menjual beberapa merek produk fashion. Semua produk yang dijual adalah produk dalam negeri dengan harga bersahabat.

“Price range paling tinggi Rp499.000. GAZE yang merupakan produk yang saya ciptakan juga kami jual di sini,” ujar Gani yang meluncurkan bisnisnya pada Februari 2018. Di bisnisnya yang baru ini, Gani bereksplorasi lewat produk apparel, dan sepatu di bawah merek LORA. Gani menggandeng koleganya di dunia modeling. Para influencer juga ikut membantunya secara sukarela, salah satunya dengan terlibat langsung dalam fashion show di ajang uI Fashion Week 2018 yang diselenggarakan di Jakarta, awal Mei 2018.

“Mereka meminjam produk GANEGANI & CO untuk difoto dan ditampilkan di akun media sosial mereka. Hal ini tentu menjadi media promosi produk saya dengan biaya minimal,” kata wanita yang memiliki delapan karyawan ini, senang. Gani mengatakan, beberapa tahun terakhir, fokusnya lebih tertuju pada bisnis. Modeling untuk runway dan pemotretan justru menjadi pekerjaan sampingan. “Enam puluh persen waktu saya untuk bisnis, sisanya untuk modeling,” ungkapnya.

Sejak menetap di Jakarta, tawaran pekerjaan di luar negeri masih ia terima, tapi tidak menjadi prioritas. “Saya tidak berencana untuk meninggalkan karier modeling, sebab sangat memberikan pengaruh dalam kesuksesan bisnis yang saya jalankan saat ini,” ungkapnya.

Bersaing Sehat
Rasa gelisah dan ambisilah yang mendorongnya untuk memulai bisnis. Alasan realistis lain adalah karena ia membutuhkan uang. “Seorang diri merantau di Jakarta, ada masa saya kepepet membutuhkan uang. Ditambah lagi rasa gelisah saya yang sudah menginjak usia di atas 20 tahun, tapi belum memiliki apa-apa. Ini menyemangati saya untuk berbinis,” ujarnya. Dinamika bisnis yang cepat membuat Gani tidak berhenti belajar. Terutama dalam hal pengelolaan keuangan. Ia banyak berkonsultasi dengan teman-teman bankir. Tak hanya dapat ilmu, dari rekan-rekannya ini ia bisa mendapat koneksi dengan investor. Ia melengkapi bekal pengetahuan bisnis fashion dan PR fashion yang ia pelajari selama di London, Inggris, dengan melahap bukubuku bisnis. Salah satu favoritnya adalah buku yang mengulas perdagangan bursa saham. Seperti halnya para pengusaha lain, bisnisnya tak lepas dari masalah. Ketika ia mulai memproduksi sepatu, ia ditipu oleh temannya sendiri.

Ide desain produknya dicuri dan dijual dengan brand lain. Kejadian ini sempat membuatnya kecewa. Namun, hal ini tidak mengendurkan semangatnya. Sebaliknya, ada pelajaran penting yang didapatnya. “Sebagai pebisnis saya harus siap bersaing, tapi dengan sehat,” tegas Gani yang menjalankan prinsip bisnis sehat dan selalu bersyukur. Ia yakin, melalui dua prinsip ini bisnisnya akan terus berkembang. Peluncuran website GANEGANI & CO pada Juni 2018 menjadi salah satu tahapan positif dari pengembangan bisnis barunya.

“Kami akan meluaskan pasar ke luar negeri. Saat ini kami sedang mengurasi brand untuk berkolaborasi dengan GANEGANI & CO,” tuturnya. Dalam hal promosi, Gani dan timnya masih mengandalkan media sosial. Mereka juga berkolaborasi dengan para influencer dan e-commerce. Serta promosi offline dengan mengikuti bazar, seperti Land of Leisures Market Jogjakarta, Bonjour! di Surabaya, dan beberapa bazaar di Jakarta. Kelak, setelah sudah merasa mampu, Gani berencana akan membuka toko sebagai tempat display agar konsumen dapat melihat secara langsung produk-produk GANEGANI & CO. Namun, sejauh ini ia masih fokus di digital saja yang lebih aksesibel bagi konsumen.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *